Orang Indonesia Dukung Penentuan Nasib Sendiri bagi West Papua.
 |
Massa FRI West Papua di Yogyakarta ditangkap polisi
(Foto: TS) |
Jakarta - Sekelompok warga Negara Indonesia yang tegabung dalam Front
Rakyat Indonesia untuk Papua Barat (FRI West Papua) mendukung penentuan
nasib sendiri bagi West Papua.
Tidak hanya melalui
deklarasi yang digelar beberapa waktu lalu di Lembaga Bantuan Hukum
(LBH) Jakarta, FRI West Papua pada momentum 55 tahun Papua Merdeka juga
menggelar aksi serentak di beberapa daerah untuk menyatakan dukungan
menentukan nasib sendiri bagi West Papua, Kamis(1/12).
“Tidak ada orang Papua, FRI semuanya orang Indonesia tapi kami
menganggap Papua sebagai saudara sendiri. Solidaritas rakyat Indonesia
untuk Papua tidak bisa minimal dan berserakan, harus disatukan agar
lebih politis,” jelas juru bicara FRI West Papua, Surya saat menggelar
deklarasi.
Aksi serentak di gelar di beberapa kota, seperti Jakarta, Yogyakarta,
Poso, Palu, Makassar, Ternate, Morotai, Sinjai, Ambon, dan Kupang. Di
Jakarta aksi diwarnai dengan tembakan water canon, pemukulan dan
penangkapan terhadap massa aksi.
Polisi menembakan water canon saat massa FRI sedang berada di Jalan Imam
Bonjol, Jakarta Pusat menuju Bunderan Hotel Indonesia. Sebanyak 203
orang sempat ditangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya. 10 orang yang
lebih dulu ditangkap mengalami penganiayaan saat di truk polisi. Semua
dilepas tanpa BAP setelah 4 jam kemudian.
Di Yogyakarta, beberapa orang ditangkap saat akan memulai aksi mendukung
hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua. Di antaranya
Gevan, Adli, Imam, Andi Randi, Asrul, Edi, Yamin, dan Danial
Indrakusuma.
“Aku, Danial Indrakusuma, sedang melakukan mogok makan untuk memprotes
penangkapan dengan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian
polresta Yogyakarta. Penangkapan tersebut Aku anggap tidak sah, hanya
karena melakukan demonstrasi untuk membela Hak Penentuan Nasib Sendiri
Rakyat West Papua. Mogok Makan ini aku lakukan di polresta Yogyakarta,”
demikian tulis salah seorang yang ditangkap, Danial pada akun
Facebook-nya.
Sementara itu, di Makassar, Palu dan Poso aksi FRI berlangsung damai tanpa pengawalan ketat dari pihak kepolisian.
FRI-West Papua menyatakan:
- Mendukung Bangsa dan Rakyat West Papua untuk Menentukan Nasib
Sendiri melalui mekanisme Referendum dan kepesertaan Referendum akan
ditentukan oleh rakyat West Papua melalui representasi politiknya dalam
ULMWP;
- Mendukung Keanggotaan ULMWP di Melanesia Spearhead Group, Pasific Island Forum dan memperjuangkan keanggotaan ULMWP di PBB;
- Militer organik dan non-organik di West Papua harus ditarik agar
referendum di West Papua dapat berjalan secara damai, adil, dan tanpa
tekanan;
- Kebebasan informasi, berekspresi, berorganisasi dan berpendapat bagi Bangsa West Papua harus dibuka lebar dan dijamin;
- Menolak intervensi imperialis dalam proses perjuangan demokratik West Papua;
- Agar dunia internasional membangun konsolidasi solidaritas perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua;
- Agar rakyat Indonesia yang bermukim di tanah West Papua untuk
mendukung perjuangan bangsa Papua dalam menentukan nasibnya sendiri;
- Menolak politik rasial yang dilakukan oleh NKRI dan TNI/POLRI secara sistematis dan masif terhadap bangsa West Papua;
- Pendidikan gratis, perluasan sekolah dan universitas, kesehatan gratis, transportasi murah dan massal, dsb.
Kenapa Penting Mendukung Papua Menentukan Nasib Sendiri?
Ada kecurangan dan penipuan sejarah. Pada 27 Desember 1949 saat
pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda,
West Papua adalah koloni tak berpemerintahan sendiri, yang berhak atas
penentuan nasib sendiri dibawah hukum internasional. Hak itu diakui oleh
Indonesia dalam New York Agreement yang menguatkan fakta bahwa
Indonesia tidak memiliki kedaulatan hukum atas West Papua.
Keberadaan Indonesia di West Papua adalah administrasi kolonial yang
bisa bersifat permanen hanya jika rakyat West Papua memilih integrasi
melalui penentuan nasib sendiri dengan prosedur yang disyaratkan oleh
hukum internasional. Satu-satunya penentuan nasib sendiri yang dilakukan
adalah melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang tidak sah pada
tahun 1969 karena hanya diwakili 1022 orang dari 0,2% populasi Papua,
yang dikondisikan setuju untuk integrasi dengan Indonesia.
Terjadi pula diskriminasi rasial yang dialami oleh mahasiswa-mahasiswa
Papua di Manado atau pun Yogyakarta, seperti yang baru-baru ini terjadi
di Asrama Mahasiswa Papua di Kamasan Yogyakarta. Ataupun diskriminasi
rasial di tempat kerja, baik di lembaga pemerintahan dan perusahaan.
Diskriminasi rasial tersebut sudah dilakukan jauh-jauh hari, bahkan
sebelum PEPERA berlangsung, sebagai mana pernyataan Ali Moertopo pada
tahun 1966:
“Indonesia tidak menginginkan orang Papua, Indonesia hanya menginginkan
tanah dan sumber daya alam yang terdapat di dalam pulau Papua. Kalau
orang Papua ingin merdeka, silahkan cari pulau lain di Pasifik untuk
merdeka. Atau meminta orang Amerika untuk menyediakan tempat di bulan
untuk orang-orang Papua menempati di sana."
FRI juga memandang terjadi genosida perlahan, selama 53 tahun lebih dari
500.000 orang Papua telah dibunuh. Rakyat Papua ditangkap, disiksa dan
dipenjara. Dalam kurun waktu 2016 lebih dari 4000 orang di tangkap.
Selain itu, terjadi perampokan kekayaan alam, seperti yang terjadi di
hutan Wasior, eksploitasi kayu (ilegal loging) secara besar-besaran yang
dilakukan oleh militer dan beberapa perusahaan lainnya mengakibatkan
penggusuran terhadap tanah adat masyarakat di daerah tersebut.
Baca Juga :
1. :
http://www.tabloidjubi.com/artikel-2064-dukung-self-determination-fri-west-papua-dideklarasikan-di-jakarta.html
2. http://tabloidjubi.com//artikel-2192-partai-sosialis-malaysia-inisiatifi-solidaritas-untuk-west-papua.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
3.
http://tabloidjubi.com//artikel-2190-masyarakat-dan-gereja-pasifik-puji-aksi-fri-west-papua-.html
Berikut foto-foto aksi FRI West Papua di berbagai kota di Indonesia:
0 komentar:
Posting Komentar